Jika kita membayangkan bahwa ruhani kita itu seperti badan kita.,maka kuat lemahnya ruhani kita tergantung pada kuat dan lemahnya otot otot yang membentuknya.

Otot-otot ruhani manusia lemah dan tidak bertenaga oleh karena: Pertama. Ia tidak mengkonsumsi apa yang menjadi gizi atau vitamin ruhaninya secara memadai .Sehingga Saya sering menyebut kondisi ini dengan istilah ”AVITAMINOSIS RUHANI”. Yang kedua, walaupun ia mengkonsumsi, tapi dosis dan kualitasnya tidak bermutu

Apa sesungguhnya yang menjadi gizi bagi ruhani manusia? Ia adalah seluruh aktivitas yang menghubungkan diri manusia yang lemah dan serba terbatas dengan Tuhan Yang Maha Mencipta Kehidupan ,Yang Maha Kuat, yang dilaksanakan secara teratur dan dalam satuan tata cara yang sudah ditentukan.. Dalam agama ia disebut ibadah. Dan ibadah itu ada dan mewujud dalam bentuk yang wajib dan yang sunnah.

Saat kita mengamati kehidupan para nabi dan rasul serta para reformis moral sepanjang sejarah, selalu saja kita dapati bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang punya kehidupan dan tradisi ibadah yang sangat berkualitas dengan tingkat intensitas yang begitu tinggi.

Maka dalam kehidupan sosialnya mereka memperlihatkan sikap: sabar, optimis, berani, berkorban, tenang, empati, adil, percaya diri dan berbagai sikap luhur yang mereka tampilkan secara menakjubkan.

Oleh karenya mari berikan ibadah sebagai vitamin atau gizi bagi ruhani kita dengan mematuhi 4 prinsip berikut ini:

Pertama :Orisinalitas. Kita manusia itu datang dari Tuhan. Maka yang akan membuat pribadi kita menjadi kuat secara ruhani adalah semua hal yang disiapkan Tuhan bagi kita manusia. Yakni seperangkat paket ibadah yang dihimpun-Nya dalam kitab suci yang diturunkan-Nya kepada rasul-Nya.

Kedua :Kualitas. Sebagaimana tubuh yang hendak disehatkan otot-ototnya, demikian pula dengan otot-otot ruhani manusia. Ia harus disehatkan dengan memperhatikan pencapaian kualitas saat ia menguatkan diri dalam menunaikan beragam ibadah kepada Tuhannya. Prinsip kedua ini menjawab fenomena tentang sejumlah orang yang sudah kelihatan beribadah, tetapi justru memperlihatkan prilaku korupsi, diktator, KKN, dan beragam kebengkokan moral lainnya. Hal ini disebabkan terutama oleh kualitas ibadah yang tidak unggul dan oleh karena nya tidak punya efek pengaruh serta efek kendali pada moral mereka.

Ketiga :Kuantitas. Kita manusia bekerja dan beraktivitas dalam 24 jam. Maka sebagaimana otot-otot fisik kita , makin banyak otot yang digunakan untuk bekerja makin banyak pula gizi dan vitamin yang harus dikonsumsi.

Nah, demikian pula dengan otot-otot ruhani manusia. Otot-otot ruhani kita pun harus mendapatkan gizi dan vitamin dengan kuantitas atau jumlah yang banyak manakala semakin banyak kita menghadapi tugas, tantangan, dan ujian dalam kehidupan.

Keempat Kontinyuitas: Tidak ada perubahan yang bisa terjadi dalam waktu singkat..Butuh cukup waktu bagi ruhani manusia untuk berubah menjadi semakin berkualitas.Oleh karena itu , ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhan Yang Maha Esa harus diusahakan agar bisa konsisten hingga selamanya.

Saya kemudian meyakinkan banyak kalangan bahwa ibadah yang bermutu bukanlah sebuah beban ruhani, melainkan sudah menjadi sebuah kebutuhan dasar bagi manusia supaya secara ruhani ia kokoh, kuat, dan bertenaga.

Di atas kekokohon, kekuatan, dan kebertenagaan inilah manusia akan dengan mudah memunculkan dan mempraktekkan sikap-sikap unggul seperti ketenangan , keyakinan , kekuatan harapan , kontrol diri , keberaniaan ,kesabaran , pengorbanan , optimisme ,kelembutan , kasih sayang , cinta , kesetiaan dan sebagainya.

Nah , mulai sekarang mari jadikan ibadah sebagai sumber kekuatan utama untuk membangun kekokohan dan kekuatan ruhani kita